Alkisah disuatu laut yang luas hiduplah seekor ikan kerapu
muda. Si kerapu ini agak sombong dan paling tidak mau mendengarkan nasehat
kerapu yang dituakan. Namun suatu hari ia mendengar dari ikan lain bahwa
sebenarnya bangsa ikan itu hidupnya di dalam air.
Kerapu muda diliputi pertanyaan. "Air? apa itu? dimana
dia berada? kenapa kok saya tidak bisa menemukannya?"
Karena pertanyaan itu sangat mengganggunya, maka si kerapu
muda itu terpaksa bertanya kepada si kerapu bijak "mana buktinya kalau air
itu ada? saya tidak bisa melihatnya?"
Si kerapu yang bijak hanya tersenyum dan mengatakan bahwa
kerapu muda itu tidak bisa melihat air, karena air sangat dekat dengan dirinya,
bahkan menyatu dengan kehidupannya.
Kerapu muda tidak puas dengan jawaban si kerapu bijak, dan
malah mencacinya karena dinilai jawabannya mengada-ada bahkan tidak logis. Ia
pun bertekad akan mencari tahu mengenai hal ini sendiri di laut wilayah lain.
Dalam perjalanannya, karena merasa letih dan lapar tidak
menemukan yang dicari, ia beristirahat sejenak.....Tiba-tiba ada benda yang
menarik perhatiannya....Ia melihat cacing yang bergerak naik-turun tidak jauh
dari tempatnya beristirahat....Secepat kilat ia menyambar cacing itu dan
menelannya. Namun ia kaget karena tiba-tiba ada kekuatan yang menariknya keatas
dengan sangat cepat.
Si kerapu muda pun berpindah ke perahu nelayan dan ditempatkan
disebuah jaring. Disana ia menangis..ia merasa kesakitan dan kehabisan nafas.
Dari jaring diatas perahu ia melihat lautan yang sangat luas
sekali. Ia baru menyadari selama ini ia hidup disana. Di dalam air. Tapi semua
itu sudah terlambat.
Baginya..hanya penyesalan yang tersisa.
Sadar atau tidak, bahwa sebenarnya semua yang ada bersama kita merupakan kebahagiaan. Kita menjadi tidak bahagia ketika kita mulai mencari kebahagiaan tersebut. Saat kita mempertanyakan, "bagaimana caranya aku agar bahagia?".
Manusia diciptakan untuk bahagia. Tapi banyak dari mereka yang
salah mengira kesenangan adalah kebahagiaan. Mereka mulai mengejar rasa nikmat
tanpa batas, mencari harta dengan menghalalkan segala cara, berharap kepada
pujian palsu dan penerimaan kelompok yang semu.
Tapi sampai kapan pun kebahagiaan hanya menjadi impian bagi
mereka yang mencari, karena kebahagiaan itu dekat sekali dengan kita.