Friday, October 14, 2016

MANUSIA ITU SEPERTI KERTAS. IA MUDAH ROBEK DIBAGIAN TERLEMAH.


Pada sore itu Andi dikejutkan dengan bunyi telpon yang berdering. Rina asistennya menelpon dan mengatakan bahwa pihak finance melaporkan mengenai dugaan penggelapan uang yang dilakukan oleh Pram, si manajer pemasaran. Tentu Andi sangat terkejut, mengingat pram adalah sahabat lamanya yang ia rekrut untuk menggantikan manajer sebelumnya yang telah pension.

Selama ini tidak ada sesuatupun yang mencurigakan dari perilaku pram. Andi pun sudah mengenal pram sejak SMA, sehingga kepercayaanpun mudah untuk diberikan kepadanya. Tentu saja kejadian ini membuatnya kaget. Ternyata ia tidak benar-benar mengenal pram.

Pembaca yang budiman, kisah diatas adalah kisah karangan saya sendiri. Namun kisah seperti itu diluar sana memang banyak terjadi. Dimana kita sering melihat seseorang dari pandangan kita secara umum terhadap orang yang kita kenal. Kita perlu menyadari bahwa setiap orang mempunyai sisi lemah. Dan saat sisi lemah itu tidak diketahui, maka ia akan mudah untuk robek. Jika robek kecil tersebut dibiarkan, maka robek yang lebih besar tidak akan bisa terhindarkan.

Kelemahan dari seseorang tidak sekaligus membuatnya menjadi buruk secara keseluruhan. Jikapun ada seseorang dapat dipercaya dalam hal pekerjaan akan tetapi ia memiliki sikap boros yang parah. Dan saat ia memegang uang, maka ia tidak bisa mengendalikan dirinya untuk membelanjakan uang yang ia tahu bukan miliknya tersebut. Orang semacam ini mungkin saja bisa diandalkan dalam beberapa hal, tapi pasti bukan dalam masalah keuangan.

Kelemahan semacam ini tentu saja tidak hanya ada pada diri orang lain, tapi juga ada pada diri kita sendiri. Bisa jadi kita lemah dalam sisi manajemen keuangan, bisa jadi lemah dalam berhubungan dengan orang lain, lemah dalam mengendalikan dorongan makan, lemah dalam manajemen waktu dan sebagainya. Nah, jika kita tidak menyadari akan kelemahan sendiri, tentu saja akan sulit mengenali apakah ia seperti robekan yang kecil pada sebuah kertas, yang lama-kelamaan akan merobek kertas itu menjadi dua bagian.

Jangan abaikan kelemahan diri kita, meskipun memang penting untuk berfokus kepada kekuatan. Memperhatikan kelemahan bukan berarti meratapinya sehingga membuat kita tidak bersyukur. Memperhatikan kelemahan agar kita tetap bisa waspada mengenai titik lemah kita, sehingga kita lebih dapat mencegahnya sedini mungkin.

Lalu bagaimana cara mengetahui kelemahan kita?
Baik. Terkadang kita tidak bisa melihat jelas mengenai keadaan diri kita sendiri secara jujur. Selalu ada bias yang membuat kita memilih mempertahankan ego daripada menyerah kepada pengakuan bahwa kita memiliki kekurangan ini dan itu. Oleh karenanya, dibutuhkan jiwa yang besar untuk benar-benar mendengarkan nasehat orang terdekat dengan kita.

Anda bisa menanyakan kepada istri, kepada suami, kepada anak, kepada saudara bahkan orangtua. Merekalah yang paling tahu mengenai diri anda. Saran-saran yang ditujukan kepada anda pastilah untuk kebaikan anda. Berbeda lagi jika teman yang memberikan saran. Ada kemungkinan ia tidak berkata sesungguhnya, karena merasa tidak mau menyinggung perasaan kita.

Jika Anda sudah menemukan kelemahan Anda, maka tugas berikutnya adalah memantaunya untuk tidak terlalu banyak merugikan anda. Syukur-syukur jika kelemahan itu bisa teratasi.

Selanjutnya fokus pada kekuatan dan jaring relasi
Sebanyak apapun usaha anda untuk menutupi kelemahan, maksimal kelemahan anda akan berada dilevel nol. Jika tadinya minus lima misalnya, lalu anda membenahi diri anda dan berusaha untuk menetralkan kelemahan anda, maka itu berarti anda mengubah posisi kelemahan dari minus lima ke angka nol. Artinya kelemahan anda sudah sembuh.

Tapi dilain sisi anda juga menghabiskan waktu anda, energi anda, memfokuskan perhatian anda kepada pencapaian angka nol.  Tidak masalah sebenarnya, asal anda juga memperhatikan kelebihan anda untuk dikembangkan. Misalnya seperti ini, jika anda adalah seorang yang sangat banyak memiliki gagasan, akan tetapi sangat lemah dalam hal mengatur waktu dan data-data yang penting, maka anda tidak terlalu harus belajar bahkan les privat mengenai ilmu praktis cara mengolah data yang benar atau ilmu manajemen. Anda hanya harus berfokus kepada kelebihan anda, lalu mendelegasikan tugas yang tidak anda mampu kepada orang yang memiliki kelebihan disana.

Anda mungkin akan terheran, bahwa ada lho orang yang sangat suka mengolah data dan merapikan segala hal yang berkaitan dengan jalannya suatu proyek. Ada juga lho orang yang suka bekerja didepan laptop sampai berjam-jam, membuat table-tabel excel, menghitung angka-angka yang sangat banyak sekali. Ada..bahkan teman saya seorang perempuan, bisa bekerja dari pagi pukul 8 sampai 7 malam dengan perasaan gembira. Padahal bekerjanya dikantor menulis laporan dan validasi data. Kalau saya sih angkat tangan…hehe…

Itulah tujuan kelemahan diciptakan bukan? Kita punya kelemahan untuk digenapi oleh orang lain. Dan begitu juga sebaliknya. Sehingga sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak bekerjasama dengan orang lain.

Kita tidak akan berhasil jika hanya berfokus pada kekuatan, jika tidak menutup kekurangan dengan kerjasama dengan orang lain.