Pada
sore itu Andi dikejutkan dengan bunyi telpon yang berdering. Rina asistennya
menelpon dan mengatakan bahwa pihak finance melaporkan mengenai dugaan penggelapan
uang yang dilakukan oleh Pram, si manajer pemasaran. Tentu Andi sangat
terkejut, mengingat pram adalah sahabat lamanya yang ia rekrut untuk
menggantikan manajer sebelumnya yang telah pension.
Selama
ini tidak ada sesuatupun yang mencurigakan dari perilaku pram. Andi pun sudah
mengenal pram sejak SMA, sehingga kepercayaanpun mudah untuk diberikan
kepadanya. Tentu saja kejadian ini membuatnya kaget. Ternyata ia tidak
benar-benar mengenal pram.
Pembaca
yang budiman, kisah diatas adalah kisah karangan saya sendiri. Namun kisah
seperti itu diluar sana memang banyak terjadi. Dimana kita sering melihat
seseorang dari pandangan kita secara umum terhadap orang yang kita kenal. Kita
perlu menyadari bahwa setiap orang mempunyai sisi lemah. Dan saat sisi lemah
itu tidak diketahui, maka ia akan mudah untuk robek. Jika robek kecil tersebut
dibiarkan, maka robek yang lebih besar tidak akan bisa terhindarkan.
Kelemahan
dari seseorang tidak sekaligus membuatnya menjadi buruk secara keseluruhan.
Jikapun ada seseorang dapat dipercaya dalam hal pekerjaan akan tetapi ia
memiliki sikap boros yang parah. Dan saat ia memegang uang, maka ia tidak bisa
mengendalikan dirinya untuk membelanjakan uang yang ia tahu bukan miliknya
tersebut. Orang semacam ini mungkin saja bisa diandalkan dalam beberapa hal,
tapi pasti bukan dalam masalah keuangan.
Kelemahan
semacam ini tentu saja tidak hanya ada pada diri orang lain, tapi juga ada pada
diri kita sendiri. Bisa jadi kita lemah dalam sisi manajemen keuangan, bisa
jadi lemah dalam berhubungan dengan orang lain, lemah dalam mengendalikan
dorongan makan, lemah dalam manajemen waktu dan sebagainya. Nah, jika kita
tidak menyadari akan kelemahan sendiri, tentu saja akan sulit mengenali apakah
ia seperti robekan yang kecil pada sebuah kertas, yang lama-kelamaan akan
merobek kertas itu menjadi dua bagian.
Jangan
abaikan kelemahan diri kita, meskipun memang penting untuk berfokus kepada
kekuatan. Memperhatikan kelemahan bukan berarti meratapinya sehingga membuat kita tidak
bersyukur. Memperhatikan kelemahan agar kita tetap bisa waspada mengenai titik
lemah kita, sehingga kita lebih dapat mencegahnya sedini mungkin.
Lalu
bagaimana cara mengetahui kelemahan kita?
Baik. Terkadang kita
tidak bisa melihat jelas mengenai keadaan diri kita sendiri secara jujur.
Selalu ada bias yang membuat kita memilih mempertahankan ego daripada menyerah
kepada pengakuan bahwa kita memiliki kekurangan ini dan itu. Oleh karenanya,
dibutuhkan jiwa yang besar untuk benar-benar mendengarkan nasehat orang
terdekat dengan kita.
Anda bisa menanyakan
kepada istri, kepada suami, kepada anak, kepada saudara bahkan orangtua.
Merekalah yang paling tahu mengenai diri anda. Saran-saran yang ditujukan
kepada anda pastilah untuk kebaikan anda. Berbeda lagi jika teman yang
memberikan saran. Ada kemungkinan ia tidak berkata sesungguhnya, karena merasa
tidak mau menyinggung perasaan kita.
Jika Anda sudah
menemukan kelemahan Anda, maka tugas berikutnya adalah memantaunya untuk tidak
terlalu banyak merugikan anda. Syukur-syukur jika kelemahan itu bisa teratasi.
Selanjutnya
fokus pada kekuatan dan jaring relasi
Sebanyak apapun usaha
anda untuk menutupi kelemahan, maksimal kelemahan anda akan berada dilevel nol.
Jika tadinya minus lima misalnya, lalu anda membenahi diri anda dan berusaha
untuk menetralkan kelemahan anda, maka itu berarti anda mengubah posisi
kelemahan dari minus lima ke angka nol. Artinya kelemahan anda sudah sembuh.
Tapi dilain sisi anda
juga menghabiskan waktu anda, energi anda, memfokuskan perhatian anda kepada
pencapaian angka nol. Tidak masalah
sebenarnya, asal anda juga memperhatikan kelebihan anda untuk dikembangkan.
Misalnya seperti ini, jika anda adalah seorang yang sangat banyak memiliki
gagasan, akan tetapi sangat lemah dalam hal mengatur waktu dan data-data yang
penting, maka anda tidak terlalu harus belajar bahkan les privat mengenai ilmu
praktis cara mengolah data yang benar atau ilmu manajemen. Anda hanya harus
berfokus kepada kelebihan anda, lalu mendelegasikan tugas yang tidak anda mampu
kepada orang yang memiliki kelebihan disana.
Anda mungkin akan
terheran, bahwa ada lho orang yang sangat suka mengolah data dan merapikan
segala hal yang berkaitan dengan jalannya suatu proyek. Ada juga lho orang yang
suka bekerja didepan laptop sampai berjam-jam, membuat table-tabel excel, menghitung
angka-angka yang sangat
banyak sekali. Ada..bahkan teman saya seorang perempuan, bisa bekerja dari pagi
pukul 8 sampai 7 malam dengan perasaan gembira. Padahal bekerjanya dikantor
menulis laporan dan validasi data. Kalau saya sih angkat tangan…hehe…
Itulah tujuan
kelemahan diciptakan bukan? Kita punya kelemahan untuk digenapi oleh orang
lain. Dan begitu juga sebaliknya. Sehingga sebenarnya tidak ada alasan untuk
tidak bekerjasama dengan orang lain.
Kita tidak akan
berhasil jika hanya berfokus pada kekuatan, jika tidak menutup kekurangan
dengan kerjasama dengan orang lain.
