Sunday, September 25, 2016

DEPRESI DAN SEBUAH KEUNTUNGAN

“Halo Pak, bisa kerumah saya” begitulah kata-kata seorang laki-laki separuh baya yang menelpon saya saat hari libur kerja. Sayapun menanyakan perihal permasalahan yang dihadapi. Bapak tadi bercerita bahwa putrinya sudah tidak bersedia makan selama dua hari dan hanya mengurung diri didalam kamar saja.




Sudah satu tahun ini ia mengurung diri didalam kamar dan bahkan tidak pernah keluar rumah sekalipun. Sehari-hari hanya tiduran saja dan keluar kamar hanya untuk makan dan minum. Akan tetapi dua hari belakangan ini keadaannya semakin parah, ia tidak bersedia makan sama sekali hanya minum beberapa teguk saja.

Sayapun mendatangi rumahnya dan disambut oleh keluarganya.

“sudah dua hari ini Pak, anak saya tidak mau makan. Apa yang harus kami lakukan”. Kata sang Bapak.

Saya mencoba melihat keadaannya dikamar.

Terlihat seorang perempuan terbaring dengan tubuh dimiringkan, kepalanya ditutup bantal dan hanya meringkuk tidak bergerak sama sekali. Bapaknya mengajak berbicara, tapi tidak ada jawaban sama sekali yang keluar dari mulutnya. Saya berbicara dan mengajaknya mengobrol. Nihil. Tidak ada jawaban sama sekali.

Ia masih bernafas dan tentu saja ia masih tersadar. Tapi tidak mau bicara sama sekali.
Saya keluar kamarnya dan mengatakan kepada orangtuanya agar dibawa segera ke rumah sakit untuk mendapat perawatan medis, mengingat sudah dua hari tidak makan dan minum, saya khawatir akan terjadi hal yang buruk dan kemungkinan dehidrasi cukup kuat.

Keluarga menceritakan bahwasanya anaknya dulu tidak seperti sekarang yang pemurung. Ia dulu sangat ceria dan pekerja keras. Setiap hari ia habiskan untuk bekerja dan baru pulang larut malam. Hingga suatu ketika hubungan dnegan kekasihnya harus berakhir. Entah bagaimana ceritanya  yang jelas semenjak saat itu ia menjadi pemurung. Lama kelamaan ia semakin tidak bersedia keluar rumah, bahkan tidak keluar kamar.

Jika saja waktu itu ia segera mendapat pertolongan, mungkin tidak akan separah sekarang. Tetapi karena sudah satu tahun berlalu, maka gejala depresi telah menguasainya. Sudah sangat berat baginya untuk merubah perasaan “tidak berdaya” yang dirasa selama ini.

Keuntungan dari ketidakberdayaan
Pernahkah dimasa kecil anda, mungkin sewaktu anda masih sekolah SD. Saat anda sakit panas dan boleh untuk tidak masuk sekolah, sepanjang hari anda merasa senang sekali karena diijinkan tetap bermain di rumah secara “legal”?!

Banyak orang yang tidak menyadarinya, bahwasanya apa-apa yang mereka anggap sebagai sesuatu yang mengganggu, adalah juga mereka harapkan kedatangannya. Terkait topic ini, maka contoh diatas adalah kasus yang tepat untuk menjelaskan “keuntungan dari ketidakberdayaan”.

Dengan merasa tidak berdaya secara sengaja, mungkin ia akan merasa puas untuk bisa membuat keluarganya merasa cemas dan kalang kabut. Mungkin dalam pikirannya ia dapat menghukum mantan pacarnya jika ia benar-benar mati atau setidaknya terlihat menderita.

Namun disisi lain ia juga merasa benar-benar menderita, di level kesadaran yang lebih tinggi ia mungkin kebingungan, apa yang sebenarnya terjadi? Dan kenapa perasaannya selalu sedih dan murung?

Kebiasaan mengurung diri dan mengutuk diri seperti ini pada awalnya memang tidak membawa dampak yang besar. Akan tetapi lama-kelamaan jika hal ini dilakukan hingga berbulan-bulan, maka akan ada kinerja otak yang terganggu. Kesedihan yang dihasilkan mekanisme tidak normal otak akan bekerja sepanjang waktu dan menguasai keseluruhan harinya. Dan ini bukan hanya masalah “saya mngurung diri agar semua orang khawatir..”, tapi mekanisme mengurung diri ini benar-benar adanya, tanpa dibuat-buat.

Jika pun ia keluar rumah untuk mencoba berinteraksi dengan orang lain, tatapannya akan sulit untuk difokuskan. Pikirannya kosong serta sulit untuk berkonsentrasi.

Dalam hal ini istilah yang tepat adalah “disosiasi”, yaitu perasaan keterpisahan antara emosi dan pikiran. Ia berjalan, melihat dan mendengar, akan tetapi seolah-olah kesadarannya tidak sepenuhnya berada didalam tubuhnya. Ia merasa kesadarannya “kosong”.

Tidak heran, jika orang yang mengalami gejala disosiasi ini akan mudah untuk “kesurupan”, celakanya orang-orang benar mengira bahwa ada roh halus yang menempel pada tubuhnya. Ya sudah semakin kacaulah.

Bagaimana mengatasinya?
Seseorang yang kehilangan tujuan hidupnya akan benar-benar kehilangan arah sama sekali. Manusia dapat bertahan karena mereka memiliki tujuan. Tujuan untuk apa mereka menjalani hidupnya, untuk apa mereka bekerja, untuk apa mereka mempersiapkan segala sesuatu saat ini.

Mereka yang tidak mampu mencari jawaban atas pertanyaan itu, mereka tidak punya alasan untuk mempertahankan eksistensinya.

Untuk mengatasi kesedihan, tujuan harus dirumuskan secara sengaja. Dalam kasus diatas si perempuan yang ditinggal oleh kekasihnya mungkin menganggap pernikahan mereka adalah alasan satu-satunya ia bekerja serta berbahagia. Sehingga saat ia berpisah dengan kekasihnya, alasannya untuk tetap melanjutkan kehidupan seperti biasanyapun mendadak hilang.

Jika anda mengalami kesedihan yang serupa, maka cepatlah untuk merumuskan tujuan baru yang lebih bermakna. Tujuan itu tidak harus besar dan megah. Cukuplah anda bisa mencapainya dan dapat anda laksanakan secara mudah setiap hari.

Bisa saja anda menentukan tujuan untuk mendapat penghasilan tambahan dari membuat kue atau menjual baju secara online. Atau tujuan pencapaian berat badan yang ideal dengan melakukan olahraga secara rutin di pusat kebugaran.

Jika anda fokus kepada hal-hal kecil yang bisa anda capai dalam jangka pendek, maka tentu anda akan belajar kembali bahwa inti dari kehidupan adalah mencapai tujuan-tujuan kecil secara berkelanjutan hingga tiba pada suatu pencapaian tertentu.

Aktifitas fisik membuat kinerja otak teraktivasi secara optimal. Jika mengurung diri membuat fisik yang selama ini diam, maka dengan melakukan aktifitas fisik kimia di otak akan diproduksi secara normal kembali.

Jika anda sedang depresi dan anda ingin sembuh, lakukan kegiatan meskipun itu hal remeh. Mencuci piring secara rutin, menyapu lantai secara rutin, membersihkan kaca, keluar membeli sesuatu di toko, lalu tingkatkanlah kuantitasnya disetiap waktu. Lama kelamaan fungsi otak anda akan teraktifasi kembali untuk bekerja secara normal.

Dan yang terakhir, karena semua bersumber dari pola pikir, maka anda harus mengintervensi pola pikir anda secara sengaja. Datanglah ke professional, psikoterapis atau psikolog yang membantu anda mengenali kesalahan dalam berpikir dan melatih cara berpikir anda lebih baik lagi.

Mungkin anda akan melakukan latihan-latihan cara berpikir yang benar, dan itu seringkali terasa tidak enak. Namun begitu setelah beberapa bulan anda akan merasa perubahan yang ajaib.

Danang Baskoro, M.Psi., Psikolog
Psikolog Klinis
Founder Brilian Psikologi
082143779380

No comments:

Post a Comment