“Halo Pak, bisa
kerumah saya” begitulah kata-kata seorang laki-laki separuh baya yang menelpon
saya saat hari libur kerja. Sayapun menanyakan perihal permasalahan yang
dihadapi. Bapak tadi bercerita bahwa putrinya sudah tidak bersedia makan selama
dua hari dan hanya mengurung diri didalam kamar saja.
Sudah satu tahun ini
ia mengurung diri didalam kamar dan bahkan tidak pernah keluar rumah sekalipun.
Sehari-hari hanya tiduran saja dan keluar kamar hanya untuk makan dan minum.
Akan tetapi dua hari belakangan ini keadaannya semakin parah, ia tidak bersedia
makan sama sekali hanya minum beberapa teguk saja.
Sayapun mendatangi
rumahnya dan disambut oleh keluarganya.
“sudah dua hari ini
Pak, anak saya tidak mau makan. Apa yang harus kami lakukan”. Kata sang Bapak.
Saya mencoba melihat
keadaannya dikamar.
Terlihat seorang
perempuan terbaring dengan tubuh dimiringkan, kepalanya ditutup bantal dan
hanya meringkuk tidak bergerak sama sekali. Bapaknya mengajak berbicara, tapi
tidak ada jawaban sama sekali yang keluar dari mulutnya. Saya berbicara dan
mengajaknya mengobrol. Nihil. Tidak ada jawaban sama sekali.
Ia masih bernafas dan
tentu saja ia masih tersadar. Tapi tidak mau bicara sama sekali.
Saya keluar kamarnya
dan mengatakan kepada orangtuanya agar dibawa segera ke rumah sakit untuk
mendapat perawatan medis, mengingat sudah dua hari tidak makan dan minum, saya
khawatir akan terjadi hal yang buruk dan kemungkinan dehidrasi cukup kuat.
Keluarga menceritakan
bahwasanya anaknya dulu tidak seperti sekarang yang pemurung. Ia dulu sangat
ceria dan pekerja keras. Setiap hari ia habiskan untuk bekerja dan baru pulang
larut malam. Hingga suatu ketika hubungan dnegan kekasihnya harus berakhir.
Entah bagaimana ceritanya yang jelas
semenjak saat itu ia menjadi pemurung. Lama kelamaan ia semakin tidak bersedia
keluar rumah, bahkan tidak keluar kamar.
Jika saja waktu itu ia
segera mendapat pertolongan, mungkin tidak akan separah sekarang. Tetapi karena
sudah satu tahun berlalu, maka gejala depresi telah menguasainya. Sudah sangat
berat baginya untuk merubah perasaan “tidak berdaya” yang dirasa selama ini.
Keuntungan
dari ketidakberdayaan
Pernahkah dimasa kecil
anda, mungkin sewaktu anda masih sekolah SD. Saat anda sakit panas dan boleh
untuk tidak masuk sekolah, sepanjang hari anda merasa senang sekali karena
diijinkan tetap bermain di rumah secara “legal”?!
Banyak orang yang
tidak menyadarinya, bahwasanya apa-apa yang mereka anggap sebagai sesuatu yang
mengganggu, adalah juga mereka harapkan kedatangannya. Terkait topic ini, maka
contoh diatas adalah kasus yang tepat untuk menjelaskan “keuntungan dari
ketidakberdayaan”.
Dengan merasa tidak
berdaya secara sengaja, mungkin ia akan merasa puas untuk bisa membuat
keluarganya merasa cemas dan kalang kabut. Mungkin dalam pikirannya ia dapat
menghukum mantan pacarnya jika ia benar-benar mati atau setidaknya terlihat
menderita.
Namun disisi lain ia
juga merasa benar-benar menderita, di level kesadaran yang lebih tinggi ia
mungkin kebingungan, apa yang sebenarnya terjadi? Dan kenapa perasaannya selalu
sedih dan murung?
Kebiasaan mengurung
diri dan mengutuk diri seperti ini pada awalnya memang tidak membawa dampak
yang besar. Akan tetapi lama-kelamaan jika hal ini dilakukan hingga
berbulan-bulan, maka akan ada kinerja otak yang terganggu. Kesedihan yang
dihasilkan mekanisme tidak normal otak akan bekerja sepanjang waktu dan
menguasai keseluruhan harinya. Dan ini bukan hanya masalah “saya mngurung diri
agar semua orang khawatir..”, tapi mekanisme mengurung diri ini benar-benar
adanya, tanpa dibuat-buat.
Jika pun ia keluar
rumah untuk mencoba berinteraksi dengan orang lain, tatapannya akan sulit untuk
difokuskan. Pikirannya kosong serta sulit untuk berkonsentrasi.
Dalam hal ini istilah
yang tepat adalah “disosiasi”, yaitu perasaan keterpisahan antara emosi dan
pikiran. Ia berjalan, melihat dan mendengar, akan tetapi seolah-olah
kesadarannya tidak sepenuhnya berada didalam tubuhnya. Ia merasa kesadarannya
“kosong”.
Tidak heran, jika
orang yang mengalami gejala disosiasi ini akan mudah untuk “kesurupan”,
celakanya orang-orang benar mengira bahwa ada roh halus yang menempel pada
tubuhnya. Ya sudah semakin kacaulah.
Bagaimana
mengatasinya?
Seseorang yang
kehilangan tujuan hidupnya akan benar-benar kehilangan arah sama sekali.
Manusia dapat bertahan karena mereka memiliki tujuan. Tujuan untuk apa mereka
menjalani hidupnya, untuk apa mereka bekerja, untuk apa mereka mempersiapkan
segala sesuatu saat ini.
Mereka yang tidak
mampu mencari jawaban atas pertanyaan itu, mereka tidak punya alasan untuk
mempertahankan eksistensinya.
Untuk mengatasi
kesedihan, tujuan harus dirumuskan secara sengaja. Dalam kasus diatas si
perempuan yang ditinggal oleh kekasihnya mungkin menganggap pernikahan mereka
adalah alasan satu-satunya ia bekerja serta berbahagia. Sehingga saat ia
berpisah dengan kekasihnya, alasannya untuk tetap melanjutkan kehidupan seperti
biasanyapun mendadak hilang.
Jika anda mengalami
kesedihan yang serupa, maka cepatlah untuk merumuskan tujuan baru yang lebih
bermakna. Tujuan itu tidak harus besar dan megah. Cukuplah anda bisa
mencapainya dan dapat anda laksanakan secara mudah setiap hari.
Bisa saja anda
menentukan tujuan untuk mendapat penghasilan tambahan dari membuat kue atau
menjual baju secara online. Atau tujuan pencapaian berat badan yang ideal dengan
melakukan olahraga secara rutin di pusat kebugaran.
Jika anda fokus kepada
hal-hal kecil yang bisa anda capai dalam jangka pendek, maka tentu anda akan
belajar kembali bahwa inti dari kehidupan adalah mencapai tujuan-tujuan kecil
secara berkelanjutan hingga tiba pada suatu pencapaian tertentu.
Aktifitas fisik
membuat kinerja otak teraktivasi secara optimal. Jika mengurung diri membuat
fisik yang selama ini diam, maka dengan melakukan aktifitas fisik kimia di otak
akan diproduksi secara normal kembali.
Jika anda sedang
depresi dan anda ingin sembuh, lakukan kegiatan meskipun itu hal remeh. Mencuci
piring secara rutin, menyapu lantai secara rutin, membersihkan kaca, keluar
membeli sesuatu di toko, lalu tingkatkanlah kuantitasnya disetiap waktu. Lama
kelamaan fungsi otak anda akan teraktifasi kembali untuk bekerja secara normal.
Dan yang terakhir,
karena semua bersumber dari pola pikir, maka anda harus mengintervensi pola
pikir anda secara sengaja. Datanglah ke professional, psikoterapis atau
psikolog yang membantu anda mengenali kesalahan dalam berpikir dan melatih cara
berpikir anda lebih baik lagi.
Mungkin anda akan
melakukan latihan-latihan cara berpikir yang benar, dan itu seringkali terasa
tidak enak. Namun begitu setelah beberapa bulan anda akan merasa perubahan yang
ajaib.
Danang Baskoro, M.Psi., Psikolog
Psikolog Klinis
Founder Brilian Psikologi
082143779380

No comments:
Post a Comment