“Saya
sudah memaafkannya dengan melupakan kesalahan-kesalahannya”.
Pengalaman
yang buruk dimasa lalu, sebenarnya bukan untuk dilupakan. Jika itu anda lakukan
maka dampaknya bisa cukup fatal. Apakah saya terlalu membesar-besarkan? Saya
rasa tidak.
Jika
anda ingin bukti, carilah satu perasaan didalam diri anda yang kurang
mengenakkan. Rasakan perasaan tersebut dan kira-kira hal apakah yang
menyebabkan perasaan tersebut muncul. Apakah mungkin anda teringat oleh orang
yang menyakiti anda dimasa lalu? Apakah anda teringat pada suatu situasi yang
membuat anda terpuruk? Apakah anda teringat pada kesalahan yang pernah anda
lakukan?
Saya
berani memastikan, bahwa orang atau situasi yang selalu anda ingat (meskipun
tidak ingin) adalah hal yang belum anda maafkan sampai saat ini. Mungkin anda
mencoba melupakannya dengan segala cara. Menutupnya dalam-dalam di lubuk hati
dan sebisa mungkin untuk tidak mengingatnya sama sekali. Apakah cara tersebut
berhasil? Sama sekali tidak kan?!
Semakin
anda mencoba untuk melupakan hal yang membuat anda merasakan suatu emosi
negatif yang intens, maka anda lebih mirip memasukkan bara api dalam sekam di
suatu wadah dan anda tutup dari luar. Sepertinya memang tidak masalah, akan
tetapi saat anda buka tutupnya, maka bara tersebut ternyata semakin terang
menyala, bahkan bisa menjadi api yang besar.
Melupakan
tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Karena ingatan tidak akan pernah
hilang, dan anda tetap menyimpan perasaan negatif tersebut didalam hati anda.
Jika anda mengatakan bahwa anda tidak ingat kejadian buruk yang anda alami
waktu masih kecil, namun masih merasakan dampak darinya, maka anda bisa
mengatakan diri anda sedang lupa. Namun bukan berarti memori itu hilang, hanya kesulitan
dalam mengaksesnya.
Satu-satunya
cara adalah memaafkan setiap kejadian yang menimpa kita. Memaafkan disini bisa
berarti memaafkan orang lain, memaafkan diri sendiri ataupun memaafkan suatu
situasi.
Dengan
memaafkan anda akan tetap mengingat kejadiannya, akan tetapi anda tidak
merasakan lagi perasaan yang negatif, yang selama ini membebani diri anda.
*****
Namanya
Dinda, usianya 30 tahun. Datang ke terapis karena ia merasa hidupnya tidak
bahagia. Suaminya tidak menghargainya sebagai istri, ia merasa kecewa dan
sempat terpikirkan untuk bercerai saja. Namun karena anaknya masih berusia
balita, maka ia pikir ulang keputusannya tersebut.
Dalam
sesi tanya jawab pra terapi, Dinda bercerita panjang lebar mengenai
kehidupannya. Ia mengeluh selama ini suaminya tidak pernah menafkahinya, dan
dengan bekerja sendirilah ia dapat mencukupi kebutuhannya. Namun yang aneh dalam
cerita Dinda tersebut adalah ia selalu mengatakan bahwa kedua orangtuanya tidak
pernah mengurusnya. Orang tuanya tidak peduli dengan keadaannya meskipun berada
dalam satu kota. Dinda berkali-kali dan mengulang-ulang cerita mengenai Ibu dan
Ayahnya yang seakan mengabaikannya, padahal ia sedang bermasalah dengan suami.
Sebagai seorang yang dewasa dan mandiri, seharusnya menyelesaikan permasalahan
seorang diri adalah sesuatu yang wajar.
Saat
saya tanya, apakah orangtua pernah melakukan perihal yang buruk di masa lalu
kepada Dinda. Ternyata jawaban Dinda
cukup menarik. Ia bercerita selama masih kecil Dinda diperlakukan berbeda
dengan adik-adiknya. Ia merasa tidak pernah diperhatikan bahkan saat kuliah ia
mencari biaya kuliah sendiri. Berbeda dengan ketiga adiknya yang dibiayai
sampai lulus, bahkan setelah lulus pun masih di beri “subsidi”.
Hal
itulah yang membuat Dinda merasa iri. Dan perasaan iri ini juga berkembang
menjadi perasaan benci kepada sosok figure orangtua. Dinda menjadi
membanding-bandingkan, mengungkit-ungkit kesalahan orangtuanya sepanjang waktu.
Hal ini membuat perasaannya kurang baik sehingga seringkali menanggapi
permasalahan yang sebenarnya sepele secara berlebihan. Pola komunikasi yang
tidak efektif inilah yang membuat suaminya tidak nyaman dengan Dinda, dan
akhirnya hubunganpun retak.
****
Jadi,
yang bisa ambil dari cerita diatas adalah apa yang kita simpan dalam diri kita
akan mempengaruhi kejiwaan kita secara keseluruhan. Jika yang ada didalam hati
kita adalah kenangan-kenangan manis, maka mudah bagi kita untuk berbuat yang
baik-baik kepada orang lain. Akan tetapi sebaliknya, jika kenangan yang buruk
dengan emosi negatif yang mendominasi, maka kecenderungan untuk bersikap
negatif juga akan selalu ada.
Menyimpan
dendam tidak akan berguna, maka satu-satunya jalan adalah memaafkan. Akan
tetapi ketika memaafkan dirasa sangat sulit mungkin kita telah terbiasa
menikmati sensasi dari rasa dendam tersebut.
Inilah
yang dinamakan Secondary Gain. Kita mendapatkan keuntungan dari suatu
penderitaan yang kita alami. Secara sadar mungkin kita mengingkari bahwa kita
tidak akan mungkin menikmati penderitaan yang saat ini ada. Namun ditataran
bawah sadar, perilaku ini sebenarnya sedang bekerja.
Tanyakan
kedalam diri anda sendiri, apa yang saya dapatkan dari saya bercerita
berulang-ulang kepada orang lain mengenai kesedihan saya? Apakah itu suatu
perhatian sementara? Apakah itu bentuk pertolongan dengan melibatkan pemberian
uang atau barang? Apakah lalu ada kompensasi untuk saya sehingga saya tidak
masuk kerja?
Jika
anda mendapatkan jawabannya, maka segeralah koreksi, apakah benar ia keuntungan
yang biasa anda nikmati selama ini. Jika jawabannya “iya”, maka tugas anda
adalah menjauhkannya dari hidup anda, karena ia akan membuat anda terkungkung
pada situasi sulit yang selama ini anda sering alami.
Padamkan api selagi
kecil
Tidak
ada jalan yang termudah dalam mencegah kemarahan dan dendam selain
memadamkannya selagi masih menjadi benih. Saat kita baru saja merasa tersakiti
merupakan waktu yang tepat untuk segera mengakhiri kebencian kita terhadap
orang yang menyakiti kita. Tidak ada jalan yang lebih baik dari hal ini.
Jangan
menunggu setelah beberapa jam atau beberapa hari, karena kita tidak tahu
informasi mengenai perasaan terluka tersebut diproses dalam pikiran seperrti
apa. Bisa saja ia seperti bola salju, yang tadinya hanyalah sebuah batu kerikil
yang meluncur dari atas gunung, lama kelamaan menjadi bola salju yang semakin
membesar, bahkan rumah yang kokohpun akan hancur karenanya.
Persepsi
negatif kita terhadap orang lain, jika kita tetap simpan didalam pikiran kita,
maka ia bisa bertumbuh. Contohnya begini, saat anda hendak memarkir mobil di
parkiran tempat anda bekerja, anda dihentikan oleh tukang parkir. Anda kaget
biasanya anda tidak diperiksa karena tukang parkir telah lama mengenal anda.
Anda diminta untuk menyerahkan STNK untuk dicatat, lalu harus membayar karcis.
Karena anda merasa pegawai kantor tersebut, maka anda jelas menolak. Akhirnya
terjadi perdebatan yang cukup sengit antara tukang parkir dan anda. Tukang
parkir tidak mau kalah dan mengatakan hanya menjalankan tugas. Sambil
marah-marah andapun terpaksa mencatatkan STNK dan membayar karcis tersebut.
Selepas
dari parkiran dan hendak bekerja, maka aka nada banyak potensi dari sikap anda
yang mengarah kepada sikap negatif. Karena suasana hati anda sudah tidak enak,
maka hal yang sepele pun biasanya mudah direspon secara berlebihan. Dalam bekerjapun pikiran anda
masih mengingat betapa kurang ajarnya si tukang parkir tersebut dalam
memperlakukan anda. Anda pun mungkin akan membuat rencana untuk membalasnya
dikemudian hari.
STOP
SAMPAI DISINI.....!!!
Jika
anda secara tidak sadar melanjutkan pikiran yang terus bergulir tanpa kontrol
sama sekali, maka sebenarnya anda sedang menggelindingkan sebuah kerikil yang
lama-lama menjadi bola salju yang bisa menghancurkan apapun. Sadari bahwa persepsi sederhana yang tidak terawasi akan
membuat pikiran kita membesar-besarkan masalah yang sebenarnya tidak penting.
Oleh karenanya sadari. Padamkanlah emosi anda saat baru terbentuk. Gunakanlah
pemikiran positif dan melihat persoalan dari dua arah. Bagaimana caranya?
Dengan berempati.
Berpikirlah
selalu, bahwa permasalahan terjadi selalu ada alasan. Mungkin saja tukang
parkir itu belum begitu terlatih dalam melakukan tugasnya, atau mungkin ia baru
saja mendapat masalah sehingga mudah marah. Carilah selalu kemungkinan-kemungkinan
yang bisa saja terjadi atas peristiwa yang anda alami. Cobalah sejenak
merasakan apa yang orang tersebut rasa. Kira-kira apa yang ia pikirkan saat
memunculkan perilaku tidak menyenangkan itu kepada anda.
Dengan
berempati, maka cara berpikir anda menjadi lebih menyeluruh. Anda akan
terhindar dari berpikir secara parsial dan menuduh orang dengan sudut pandang
“saya”. Anda akan mengerti permasalahan dengan sudut pandang “dia”. Dengan
begitu anda akan merasakan perbedaan perasaan yang anda alami.
Berapa
banyak orang yang berdebat mengenai hal yang tidak terlalu penting yang
akhirnya berujung pada retaknya hubungan? Padahal jika mereka memakai kacamata
sudut pandang “saya” dan “dia”, maka perdebatan adalah upaya yang tidak
diperlukan sama sekali. Kita tahu masing-masing orang memiliki pandangannya
sendiri. Apa yang mereka lakukan adalah karena sumberdaya yang dimilikinya
terbatas. Orang yang kurang pengalaman atau memiliki pendidikan yang rendah,
tentu berbeda dalam menyikapi peristiwa. Tentu berbeda dengan orang yang lebih
tinggi pendidikannya, toh meskipun banyak juga orang dengan pendidikan tinggi
mudah bersikap buruk.
Jika
anda tidak mampu untuk mencegah adanya api didalam diri anda, maka segera
padamkan saat api itu masih kecil. Jangan menunggu meskipun sebentar sekalipun.
Karena anda tidak akan pernah tahu dari sisi mana ia akan membakar anda.
Danang Baskoro, M.Psi., Psikolog
Psikolog Klinis

No comments:
Post a Comment