Monday, September 26, 2016

MEMAAFKAN ADALAH PENYEMBUH YANG MUJARAB


“Saya sudah memaafkannya dengan melupakan kesalahan-kesalahannya”.

Pengalaman yang buruk dimasa lalu, sebenarnya bukan untuk dilupakan. Jika itu anda lakukan maka dampaknya bisa cukup fatal. Apakah saya terlalu membesar-besarkan? Saya rasa tidak.

Jika anda ingin bukti, carilah satu perasaan didalam diri anda yang kurang mengenakkan. Rasakan perasaan tersebut dan kira-kira hal apakah yang menyebabkan perasaan tersebut muncul. Apakah mungkin anda teringat oleh orang yang menyakiti anda dimasa lalu? Apakah anda teringat pada suatu situasi yang membuat anda terpuruk? Apakah anda teringat pada kesalahan yang pernah anda lakukan?
Saya berani memastikan, bahwa orang atau situasi yang selalu anda ingat (meskipun tidak ingin) adalah hal yang belum anda maafkan sampai saat ini. Mungkin anda mencoba melupakannya dengan segala cara. Menutupnya dalam-dalam di lubuk hati dan sebisa mungkin untuk tidak mengingatnya sama sekali. Apakah cara tersebut berhasil? Sama sekali tidak kan?!

Semakin anda mencoba untuk melupakan hal yang membuat anda merasakan suatu emosi negatif yang intens, maka anda lebih mirip memasukkan bara api dalam sekam di suatu wadah dan anda tutup dari luar. Sepertinya memang tidak masalah, akan tetapi saat anda buka tutupnya, maka bara tersebut ternyata semakin terang menyala, bahkan bisa menjadi api yang besar.

Melupakan tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Karena ingatan tidak akan pernah hilang, dan anda tetap menyimpan perasaan negatif tersebut didalam hati anda. Jika anda mengatakan bahwa anda tidak ingat kejadian buruk yang anda alami waktu masih kecil, namun masih merasakan dampak darinya, maka anda bisa mengatakan diri anda sedang lupa. Namun bukan berarti memori itu hilang, hanya kesulitan dalam mengaksesnya.

Satu-satunya cara adalah memaafkan setiap kejadian yang menimpa kita. Memaafkan disini bisa berarti memaafkan orang lain, memaafkan diri sendiri ataupun memaafkan suatu situasi.
Dengan memaafkan anda akan tetap mengingat kejadiannya, akan tetapi anda tidak merasakan lagi perasaan yang negatif, yang selama ini membebani diri anda.
*****
Namanya Dinda, usianya 30 tahun. Datang ke terapis karena ia merasa hidupnya tidak bahagia. Suaminya tidak menghargainya sebagai istri, ia merasa kecewa dan sempat terpikirkan untuk bercerai saja. Namun karena anaknya masih berusia balita, maka ia pikir ulang keputusannya tersebut.

Dalam sesi tanya jawab pra terapi, Dinda bercerita panjang lebar mengenai kehidupannya. Ia mengeluh selama ini suaminya tidak pernah menafkahinya, dan dengan bekerja sendirilah ia dapat mencukupi kebutuhannya. Namun yang aneh dalam cerita Dinda tersebut adalah ia selalu mengatakan bahwa kedua orangtuanya tidak pernah mengurusnya. Orang tuanya tidak peduli dengan keadaannya meskipun berada dalam satu kota. Dinda berkali-kali dan mengulang-ulang cerita mengenai Ibu dan Ayahnya yang seakan mengabaikannya, padahal ia sedang bermasalah dengan suami. Sebagai seorang yang dewasa dan mandiri, seharusnya menyelesaikan permasalahan seorang diri adalah sesuatu yang wajar.
Saat saya tanya, apakah orangtua pernah melakukan perihal yang buruk di masa lalu kepada Dinda. Ternyata  jawaban Dinda cukup menarik. Ia bercerita selama masih kecil Dinda diperlakukan berbeda dengan adik-adiknya. Ia merasa tidak pernah diperhatikan bahkan saat kuliah ia mencari biaya kuliah sendiri. Berbeda dengan ketiga adiknya yang dibiayai sampai lulus, bahkan setelah lulus pun masih di beri “subsidi”.

Hal itulah yang membuat Dinda merasa iri. Dan perasaan iri ini juga berkembang menjadi perasaan benci kepada sosok figure orangtua. Dinda menjadi membanding-bandingkan, mengungkit-ungkit kesalahan orangtuanya sepanjang waktu. Hal ini membuat perasaannya kurang baik sehingga seringkali menanggapi permasalahan yang sebenarnya sepele secara berlebihan. Pola komunikasi yang tidak efektif inilah yang membuat suaminya tidak nyaman dengan Dinda, dan akhirnya hubunganpun retak.

****
Jadi, yang bisa ambil dari cerita diatas adalah apa yang kita simpan dalam diri kita akan mempengaruhi kejiwaan kita secara keseluruhan. Jika yang ada didalam hati kita adalah kenangan-kenangan manis, maka mudah bagi kita untuk berbuat yang baik-baik kepada orang lain. Akan tetapi sebaliknya, jika kenangan yang buruk dengan emosi negatif yang mendominasi, maka kecenderungan untuk bersikap negatif juga akan selalu ada.

Menyimpan dendam tidak akan berguna, maka satu-satunya jalan adalah memaafkan. Akan tetapi ketika memaafkan dirasa sangat sulit mungkin kita telah terbiasa menikmati sensasi dari  rasa dendam tersebut.

Inilah yang dinamakan Secondary Gain. Kita mendapatkan keuntungan dari suatu penderitaan yang kita alami. Secara sadar mungkin kita mengingkari bahwa kita tidak akan mungkin menikmati penderitaan yang saat ini ada. Namun ditataran bawah sadar, perilaku ini sebenarnya sedang bekerja.

Tanyakan kedalam diri anda sendiri, apa yang saya dapatkan dari saya bercerita berulang-ulang kepada orang lain mengenai kesedihan saya? Apakah itu suatu perhatian sementara? Apakah itu bentuk pertolongan dengan melibatkan pemberian uang atau barang? Apakah lalu ada kompensasi untuk saya sehingga saya tidak masuk kerja?

Jika anda mendapatkan jawabannya, maka segeralah koreksi, apakah benar ia keuntungan yang biasa anda nikmati selama ini. Jika jawabannya “iya”, maka tugas anda adalah menjauhkannya dari hidup anda, karena ia akan membuat anda terkungkung pada situasi sulit yang selama ini anda sering alami.

Padamkan api selagi kecil
Tidak ada jalan yang termudah dalam mencegah kemarahan dan dendam selain memadamkannya selagi masih menjadi benih. Saat kita baru saja merasa tersakiti merupakan waktu yang tepat untuk segera mengakhiri kebencian kita terhadap orang yang menyakiti kita. Tidak ada jalan yang lebih baik dari hal ini.

Jangan menunggu setelah beberapa jam atau beberapa hari, karena kita tidak tahu informasi mengenai perasaan terluka tersebut diproses dalam pikiran seperrti apa. Bisa saja ia seperti bola salju, yang tadinya hanyalah sebuah batu kerikil yang meluncur dari atas gunung, lama kelamaan menjadi bola salju yang semakin membesar, bahkan rumah yang kokohpun akan hancur karenanya.

Persepsi negatif kita terhadap orang lain, jika kita tetap simpan didalam pikiran kita, maka ia bisa bertumbuh. Contohnya begini, saat anda hendak memarkir mobil di parkiran tempat anda bekerja, anda dihentikan oleh tukang parkir. Anda kaget biasanya anda tidak diperiksa karena tukang parkir telah lama mengenal anda. Anda diminta untuk menyerahkan STNK untuk dicatat, lalu harus membayar karcis. Karena anda merasa pegawai kantor tersebut, maka anda jelas menolak. Akhirnya terjadi perdebatan yang cukup sengit antara tukang parkir dan anda. Tukang parkir tidak mau kalah dan mengatakan hanya menjalankan tugas. Sambil marah-marah andapun terpaksa mencatatkan STNK dan membayar karcis tersebut.

Selepas dari parkiran dan hendak bekerja, maka aka nada banyak potensi dari sikap anda yang mengarah kepada sikap negatif. Karena suasana hati anda sudah tidak enak, maka hal yang sepele pun biasanya mudah direspon secara berlebihan. Dalam bekerjapun pikiran anda masih mengingat betapa kurang ajarnya si tukang parkir tersebut dalam memperlakukan anda. Anda pun mungkin akan membuat rencana untuk membalasnya dikemudian hari.

STOP SAMPAI DISINI.....!!!
Jika anda secara tidak sadar melanjutkan pikiran yang terus bergulir tanpa kontrol sama sekali, maka sebenarnya anda sedang menggelindingkan sebuah kerikil yang lama-lama menjadi bola salju yang bisa menghancurkan apapun. Sadari bahwa  persepsi sederhana yang tidak terawasi akan membuat pikiran kita membesar-besarkan masalah yang sebenarnya tidak penting. Oleh karenanya sadari. Padamkanlah emosi anda saat baru terbentuk. Gunakanlah pemikiran positif dan melihat persoalan dari dua arah. Bagaimana caranya? Dengan berempati.

Berpikirlah selalu, bahwa permasalahan terjadi selalu ada alasan. Mungkin saja tukang parkir itu belum begitu terlatih dalam melakukan tugasnya, atau mungkin ia baru saja mendapat masalah sehingga mudah marah. Carilah selalu kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi atas peristiwa yang anda alami. Cobalah sejenak merasakan apa yang orang tersebut rasa. Kira-kira apa yang ia pikirkan saat memunculkan perilaku tidak menyenangkan itu kepada anda.

Dengan berempati, maka cara berpikir anda menjadi lebih menyeluruh. Anda akan terhindar dari berpikir secara parsial dan menuduh orang dengan sudut pandang “saya”. Anda akan mengerti permasalahan dengan sudut pandang “dia”. Dengan begitu anda akan merasakan perbedaan perasaan yang anda alami.

Berapa banyak orang yang berdebat mengenai hal yang tidak terlalu penting yang akhirnya berujung pada retaknya hubungan? Padahal jika mereka memakai kacamata sudut pandang “saya” dan “dia”, maka perdebatan adalah upaya yang tidak diperlukan sama sekali. Kita tahu masing-masing orang memiliki pandangannya sendiri. Apa yang mereka lakukan adalah karena sumberdaya yang dimilikinya terbatas. Orang yang kurang pengalaman atau memiliki pendidikan yang rendah, tentu berbeda dalam menyikapi peristiwa. Tentu berbeda dengan orang yang lebih tinggi pendidikannya, toh meskipun banyak juga orang dengan pendidikan tinggi mudah bersikap buruk.


Jika anda tidak mampu untuk mencegah adanya api didalam diri anda, maka segera padamkan saat api itu masih kecil. Jangan menunggu meskipun sebentar sekalipun. Karena anda tidak akan pernah tahu dari sisi mana ia akan membakar anda.

Danang Baskoro, M.Psi., Psikolog
Psikolog Klinis

No comments:

Post a Comment