Thursday, July 30, 2015

TERLALU MENCINTAI, MEMBUNUH YANG DICINTAI



“ Pak, saya Mamahnya Dodik. Ingin konsultasi mumpung agak luang”.
Begitu isi SMS yang saya buka di suatu pagi.
     Dodik telah menjadi klien saya semenjak beberapa minggu yang lalu. Dia menderita penurunan mood yang sangat tajam hingga seringkali mendapat ide untuk mengakhiri hidupnya.
      Setelah beberapa sesi konseling nampaknya ada perbaikan. Namun dengan beberapa kali kambuh, meskipun tidak separah sebelumnya.
     Saya sangat bersyukur, orangtuanya datang langsung kali ini. Karena memang sebelumnya selama beberapa sesi terapi Dodik yang berusia 16 tahun datang seorang diri.
    Saya kemudian menghubungkan bahwa banyak kaitannya antara figure orangtua dan permasalahan yang dihadapi oleh anaknya. Bahkan saya melihat perilaku yang sedikit abnormal dari seseorang, banyak terkait dengan pola asuh atau kejadian didalam keluarganya.
    Saya melihat sahabat saya yang broken home, memiliki figure ayah yang buram Sahabat saya ini mengembangkan perasaan ketergantungan pada pasangannya namun sekaligus sering menyiksa pasangannya dengan keluhan ataupun ekspresi marah. Ada juga seorang yang mudah sedih dan sulit membuat keputusan, setelah bertemu dengan keluarganya, ternyata ibunya terlalu protektif dan memberikan kasih sayang yang berlebihan.
    Oleh karena intervensi dengan keluarga akan lebih berdampak dibanding ia hanya mendapat intervensi individu saja.
    Ibu Dodik juga menyadari bahwa selama ini suaminya terlalu sayang kepada anaknya. Memberikan yang terbaik kepada Dodik dengan mengantarnya kemanapun ia pergi dengan supir, namun sayangnya ayahnya sangat keras melarangnya jika ia pergi naik angkot ataupun sepeda motor.
    Pada sesi konseling terakhir, Ibu Dodik bersyukur suaminya telah banyak berubah dan juga dapat lebih mengerti bagaimana memperlakukan Dodik sebagai seorang anak sekaligus menghormati sebagai pribadi yang mandiri.
********
Sebenarnya kita bisa melihat bahwa kasih sayang dan cinta yang besar saja tidaklah cukup untuk kita berikan kepada orang yang kita cintai.
Kita perlu mengukur, menakar dan memperkirakan dampak dari cara kita mencintai.
Kita boleh mencintai secara besar-besaran, akan tetapi tidak boleh membabi buta.
Kita perlu menanyakan, tanyakan kepada hati Anda


Danang Baskoro, M.Psi., Psikolog

No comments:

Post a Comment