“ Pak, saya Mamahnya Dodik. Ingin
konsultasi mumpung agak luang”.
Begitu isi SMS yang saya buka di
suatu pagi.
Dodik telah menjadi klien saya
semenjak beberapa minggu yang lalu. Dia menderita penurunan mood yang sangat
tajam hingga seringkali mendapat ide untuk mengakhiri hidupnya.
Setelah beberapa sesi konseling
nampaknya ada perbaikan. Namun dengan beberapa kali kambuh, meskipun tidak
separah sebelumnya.
Saya sangat bersyukur, orangtuanya datang
langsung kali ini. Karena memang sebelumnya selama beberapa sesi terapi Dodik
yang berusia 16 tahun datang seorang diri.
Saya kemudian menghubungkan bahwa
banyak kaitannya antara figure orangtua dan permasalahan yang dihadapi oleh
anaknya. Bahkan saya melihat perilaku yang sedikit abnormal dari seseorang,
banyak terkait dengan pola asuh atau kejadian didalam keluarganya.
Saya melihat sahabat saya yang
broken home, memiliki figure ayah yang buram Sahabat saya ini mengembangkan
perasaan ketergantungan pada pasangannya namun sekaligus sering menyiksa
pasangannya dengan keluhan ataupun ekspresi marah. Ada juga seorang yang mudah
sedih dan sulit membuat keputusan, setelah bertemu dengan keluarganya, ternyata
ibunya terlalu protektif dan memberikan kasih sayang yang berlebihan.
Oleh karena intervensi dengan
keluarga akan lebih berdampak dibanding ia hanya mendapat intervensi individu
saja.
Ibu Dodik juga menyadari bahwa
selama ini suaminya terlalu sayang kepada anaknya. Memberikan yang terbaik
kepada Dodik dengan mengantarnya kemanapun ia pergi dengan supir, namun
sayangnya ayahnya sangat keras melarangnya jika ia pergi naik angkot ataupun
sepeda motor.
Pada sesi konseling terakhir, Ibu
Dodik bersyukur suaminya telah banyak berubah dan juga dapat lebih mengerti
bagaimana memperlakukan Dodik sebagai seorang anak sekaligus menghormati
sebagai pribadi yang mandiri.
********
Sebenarnya kita bisa melihat bahwa
kasih sayang dan cinta yang besar saja tidaklah cukup untuk kita berikan kepada
orang yang kita cintai.
Kita perlu mengukur, menakar dan
memperkirakan dampak dari cara kita mencintai.
Kita boleh mencintai secara
besar-besaran, akan tetapi tidak boleh membabi buta.
Kita perlu menanyakan, tanyakan
kepada hati Anda
Danang Baskoro, M.Psi., Psikolog

No comments:
Post a Comment