Saturday, August 8, 2015

HIDUP ADALAH SENI BERPERAN. SETIAP PERAN MEMILIH KONSEKUENSINYA SENDIRI.


Sadar atau tidak, sebenarnya benar kalau sehari-hari adalah permainan. Spesifiknya lagi adalah sandiwara.
      Dirumah kita memerankan sebagai suami/istri. Ditempat kerja memerankan sesuai dengan jabatan. Di pergaulan memerankan menjadi sahabat. Dan saat kembali ke rumah orangtua, kita memerankan menjadi seorang anak.
     Setiap peran memiliki perbedaan. Bukan hanya di labeling saja, akan tetapi juga di perasaan serta cara berpikir.
Coba kita amati.
      Pasti ada perbedaan cara bicara kita dengan atasan.dengan bawahan. Dengan orangtua, dan dengan teman. Perbedaan itu bisa terletak di cara bicara, intonasi bicara ataupun logat. Bahkan lebih ekstrim lagi adalah kepada perasaan dan cara berpikir.

Ada 3 hal yang ingin saya sampaikan mengenai ini, yaitu :
Pertama, peran yang kita mainkan memang bermacam-macam. Dan tiap peran itu memiliki karakter yang meskipun hampir sama tapi terdapat perbedaan yang signifikan.
Kedua, setiap peran membawa dampak bagi fisik dan psikologis kita. Meliputi cara berpikir dan perasaan. Sehingga kita harus pas memerankannya dimana? disituasi apa? Kita tidak bisa memainkan peran bawahan atau atasan di dalam lingkup keluarga. Atau sebaliknya, kita tidak bisa serta merta memainkan peran sahabat akrab di kantor dengan tuntutan kerja yg sedemikian. Jadi, kesalahan peran menimbulkan konsekuensi tertentu.
      Saya pernah menjumpai seorang yang manjanya minta ampun saat bergaul dengan sosok yg lebih tua. Nah, ini anak sedang memainkan peran "anak" di lingkup keluarga, dan ketika dibawa keluar maka kurang adaptif.
      Ada juga orang yang saat bergaul denga rekannya tegasnya minta ampun, ketus dan keinginan mengarahkan yang tinggi. Mungkin dia sedang memainkan peran menjadi pemimpin, tapi lagi-lagi kurang pas saat disemua situasi peran itu dipakai terus.
Ketiga, karena ini adalah peran dan permainan. Kita bisa pakai peran yang pernah kita mainkan untuk dimunculkan dalam situasi tertentu.
      Contoh, jika Anda seorang karateka tapi memiliki demam panggung saat presentasi di kantor, sebenarnya peran karateka bisa dihadirkan saat Anda hendak presentasi. Caranya adalah ingat-ingat pengalaman saat bertanding, cari sumber-sumber pengalaman saat Anda berani..paling berani. Simpan perasaan itu dan perkuat. Dengan begitu maka peran di kantor yang demam panggung, Anda rubah dengan seorang karateka yang gagah berani.

Note : Hidup adalah seni berperan yang setiap peran memiliki dampak yang nyata untuk keadaan fisik, psikis, cara berpikir dan emosi. Pilihlah selalu peran yang sesuai di panggung dimana kita berada.

Anda sedang memainkan peran apa saat ini?

No comments:

Post a Comment