Sunday, December 13, 2015

Konsep Tentang Kesadaran Manusia

Jika kita berbicara mengenai konsep, maka boleh dikatakan hal ini bukan keadaan yang sebenarnya atau persis ya. Konsep ini dipakai untuk memudahkan kita dalam memahami prinsip kerja pikiran manusia dan membuatnya lebih sederhana, sehingga kita mudah bekerja dengannya.

Dalam hypnosis, pikiran manusia dibagi menjadi dua, yaitu pikiran sadar dan pikiran bawah sadar.
Pikiran sadar (conscious) adalah pikiran yang bertugas untuk menilai, berpikir, mengambil keputusan dan melakukan tugas lain yang bisa bekerja saat seseorang tersebut memusatkan perhatian dalam berpikir. Jadi pikiran sadar lebih banyak berhubungan dengan cara berpikir logis.
Cara berpikir ini lebih di dominasi oleh otak kiri.

Sedangkan pikiran bawah sadar adalah pikiran yang berisi mengenai memori jangka panjang, emosi, kebiasaan, intuisi, kreatifitas, keyakinan dan nilai serta sumber potensi manusia yang tidak semua terakses.
Pikiran bawah sadar (Sub-Concious) memiliki peran 88% dalam mempengaruhi kehidupan seseorang. Dibandingkan dengan pikiran sadar  yang hanya memiliki peran 12%, maka pikiran bawah sadar lebih banyak menentukani jalan hidup seseorang.

Pikiran bawah sadar ini lebih mirip sebagai bank data di dalam manusia. Nah, bank data ini tadinya kosong. Lalu diisi dengan data-data seiring perjalanan hidup seseorang dan terjadilah pemrograman. Pengisian data ini bisa terjadi melalui 2 cara, yaitu pengalaman yang kita temui sendiri dan pengalaman induktif (datang dari orang lain).

Kenyataannya, sebagai manusia kita banyak mendapat data pemrograman ini dari orang lain. Kita bisa bicara misalnya, adalah proses belajar dari orang lain, begitu juga dengan belajar disekolah, pergaulan sehari-hari, televisi dan banyak lagi informasi yang masuk dan akhirnya terinstal. Celakanya jika informasi tersebut adalah informasi yang salah, sehingga dapat menghambat seseorang dan tidak memberdayakan.

Informasi yang terinstal dan tidak memberdayakan ini bisa jadi karena dua proses. Bisa karena informasinya memang benar-benar menghambat, misalkan keyakinan terhadap uang yang ditanamkan oleh orangtua, bahwa uang itu sumber dari penderitaan. Orang yang memiliki keyakinan ini akan cenderung menghindari mendapatkan uang yang banyak, meskipun dalam pikiran sadarnya ia membutuhkan dan menginginkan uang.
Proses yang kedua adalah karena proses kesalahan dalam penginstalan informasi. Hal ini dapat terjadi karena kita salah memaknai terhadap suatu informasi/kejadian, atau bisa juga karena kurangnya kapasitas mental kita saat pemaknaan itu terjadi. Nah biasanya kesalahan ini terjadi pada usia anak-anak (<8 tahun).

Pada usia anak-anak kemampuan berpikir kita belumlah secanggih sekarang, sehingga saat mendapatkan informasi dari luar khususnya yang menyakitkan, kita belum dapat memahaminya dengan pemahaman yang benar. Misalnya, saat seorang anak dicakar kucing saat masih berusia 5 tahun, pada waktu itu akhirnya ia mengintepretasikan bahwa kucing adalah binatang yang menakutkan. Data ini masuk kedalam memori jangka panjangnya. Masuk ke pikiran bawah sadarnya. Dan ketika ia sudah dewasa ia tahu bahwa kucing tidaklah berbahaya, akan tetapi pikiran bawah sadarnya mengatakan bahwa kucing itu berbahaya. Sehingga menimbulkan respon ketakutan yang tidak wajar.

Hal yang sama terjadi pada orang yang mengalami kecemasan saat berhubungan dengan orang lain, dan memiliki perilaku atau kebiasaan yang kurang adaptif lainnya.

Oleh karena itu jika pikiran sadar dan bawah sadar bertentangan, dapat dipastikan pikiran bawah sadarlah yang akan menang.

Kalau begitu apakah pikiran sadar ini kurang penting?

Yang dimaksud dengan 12% peran pikiran sadar ini tidak mengurangi tingkat kegunaannya dalam hidup seseorang lho ya. Jika pikiran sadar ini rusak, maka pikiran bawah sadar tidak akan banyak gunanya. Hal ini terjadi karena pikiran sadarlah yang menentukan penggunaan bawah sadar dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya begini, ada orang yang sangat pintar. Ia sudah berpengalaman bekerja berpuluh tahun sehingga diotaknya tersimpan banyak informasi yang berguna untuk menunjang keberhasilannya. Akan tetapi suatu hari ia mengalami kecelakaan yang membuat gegar otak. Semenjak saat itu ia menjadi sulit berkonsentrasi dan kurang bisa mengendalikan diri saat marah ataupun lapar. Ia marah sekenanya dan makan sebanyak mungkin saat lapar.

Nah, kira-kira apakah orang ini akan bisa menggunakan potensi bawah sadarnya dengan baik ?
Tentu saja tidak kan?! Jadi pikiran sadar tidak kalah penting dengan pikiran bawah sadar, meskipun nanti kita bisa membahas mengenai tingkat penggunaannya dalam konteks yang berbeda.

Salam
Danang Baskoro, M.Psi., Psikolog

No comments:

Post a Comment