Monday, September 26, 2016

MEMAAFKAN ADALAH PENYEMBUH YANG MUJARAB


“Saya sudah memaafkannya dengan melupakan kesalahan-kesalahannya”.

Pengalaman yang buruk dimasa lalu, sebenarnya bukan untuk dilupakan. Jika itu anda lakukan maka dampaknya bisa cukup fatal. Apakah saya terlalu membesar-besarkan? Saya rasa tidak.

Jika anda ingin bukti, carilah satu perasaan didalam diri anda yang kurang mengenakkan. Rasakan perasaan tersebut dan kira-kira hal apakah yang menyebabkan perasaan tersebut muncul. Apakah mungkin anda teringat oleh orang yang menyakiti anda dimasa lalu? Apakah anda teringat pada suatu situasi yang membuat anda terpuruk? Apakah anda teringat pada kesalahan yang pernah anda lakukan?
Saya berani memastikan, bahwa orang atau situasi yang selalu anda ingat (meskipun tidak ingin) adalah hal yang belum anda maafkan sampai saat ini. Mungkin anda mencoba melupakannya dengan segala cara. Menutupnya dalam-dalam di lubuk hati dan sebisa mungkin untuk tidak mengingatnya sama sekali. Apakah cara tersebut berhasil? Sama sekali tidak kan?!

Semakin anda mencoba untuk melupakan hal yang membuat anda merasakan suatu emosi negatif yang intens, maka anda lebih mirip memasukkan bara api dalam sekam di suatu wadah dan anda tutup dari luar. Sepertinya memang tidak masalah, akan tetapi saat anda buka tutupnya, maka bara tersebut ternyata semakin terang menyala, bahkan bisa menjadi api yang besar.

Melupakan tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Karena ingatan tidak akan pernah hilang, dan anda tetap menyimpan perasaan negatif tersebut didalam hati anda. Jika anda mengatakan bahwa anda tidak ingat kejadian buruk yang anda alami waktu masih kecil, namun masih merasakan dampak darinya, maka anda bisa mengatakan diri anda sedang lupa. Namun bukan berarti memori itu hilang, hanya kesulitan dalam mengaksesnya.

Satu-satunya cara adalah memaafkan setiap kejadian yang menimpa kita. Memaafkan disini bisa berarti memaafkan orang lain, memaafkan diri sendiri ataupun memaafkan suatu situasi.
Dengan memaafkan anda akan tetap mengingat kejadiannya, akan tetapi anda tidak merasakan lagi perasaan yang negatif, yang selama ini membebani diri anda.
*****
Namanya Dinda, usianya 30 tahun. Datang ke terapis karena ia merasa hidupnya tidak bahagia. Suaminya tidak menghargainya sebagai istri, ia merasa kecewa dan sempat terpikirkan untuk bercerai saja. Namun karena anaknya masih berusia balita, maka ia pikir ulang keputusannya tersebut.

Dalam sesi tanya jawab pra terapi, Dinda bercerita panjang lebar mengenai kehidupannya. Ia mengeluh selama ini suaminya tidak pernah menafkahinya, dan dengan bekerja sendirilah ia dapat mencukupi kebutuhannya. Namun yang aneh dalam cerita Dinda tersebut adalah ia selalu mengatakan bahwa kedua orangtuanya tidak pernah mengurusnya. Orang tuanya tidak peduli dengan keadaannya meskipun berada dalam satu kota. Dinda berkali-kali dan mengulang-ulang cerita mengenai Ibu dan Ayahnya yang seakan mengabaikannya, padahal ia sedang bermasalah dengan suami. Sebagai seorang yang dewasa dan mandiri, seharusnya menyelesaikan permasalahan seorang diri adalah sesuatu yang wajar.
Saat saya tanya, apakah orangtua pernah melakukan perihal yang buruk di masa lalu kepada Dinda. Ternyata  jawaban Dinda cukup menarik. Ia bercerita selama masih kecil Dinda diperlakukan berbeda dengan adik-adiknya. Ia merasa tidak pernah diperhatikan bahkan saat kuliah ia mencari biaya kuliah sendiri. Berbeda dengan ketiga adiknya yang dibiayai sampai lulus, bahkan setelah lulus pun masih di beri “subsidi”.

Hal itulah yang membuat Dinda merasa iri. Dan perasaan iri ini juga berkembang menjadi perasaan benci kepada sosok figure orangtua. Dinda menjadi membanding-bandingkan, mengungkit-ungkit kesalahan orangtuanya sepanjang waktu. Hal ini membuat perasaannya kurang baik sehingga seringkali menanggapi permasalahan yang sebenarnya sepele secara berlebihan. Pola komunikasi yang tidak efektif inilah yang membuat suaminya tidak nyaman dengan Dinda, dan akhirnya hubunganpun retak.

****
Jadi, yang bisa ambil dari cerita diatas adalah apa yang kita simpan dalam diri kita akan mempengaruhi kejiwaan kita secara keseluruhan. Jika yang ada didalam hati kita adalah kenangan-kenangan manis, maka mudah bagi kita untuk berbuat yang baik-baik kepada orang lain. Akan tetapi sebaliknya, jika kenangan yang buruk dengan emosi negatif yang mendominasi, maka kecenderungan untuk bersikap negatif juga akan selalu ada.

Menyimpan dendam tidak akan berguna, maka satu-satunya jalan adalah memaafkan. Akan tetapi ketika memaafkan dirasa sangat sulit mungkin kita telah terbiasa menikmati sensasi dari  rasa dendam tersebut.

Inilah yang dinamakan Secondary Gain. Kita mendapatkan keuntungan dari suatu penderitaan yang kita alami. Secara sadar mungkin kita mengingkari bahwa kita tidak akan mungkin menikmati penderitaan yang saat ini ada. Namun ditataran bawah sadar, perilaku ini sebenarnya sedang bekerja.

Tanyakan kedalam diri anda sendiri, apa yang saya dapatkan dari saya bercerita berulang-ulang kepada orang lain mengenai kesedihan saya? Apakah itu suatu perhatian sementara? Apakah itu bentuk pertolongan dengan melibatkan pemberian uang atau barang? Apakah lalu ada kompensasi untuk saya sehingga saya tidak masuk kerja?

Jika anda mendapatkan jawabannya, maka segeralah koreksi, apakah benar ia keuntungan yang biasa anda nikmati selama ini. Jika jawabannya “iya”, maka tugas anda adalah menjauhkannya dari hidup anda, karena ia akan membuat anda terkungkung pada situasi sulit yang selama ini anda sering alami.

Padamkan api selagi kecil
Tidak ada jalan yang termudah dalam mencegah kemarahan dan dendam selain memadamkannya selagi masih menjadi benih. Saat kita baru saja merasa tersakiti merupakan waktu yang tepat untuk segera mengakhiri kebencian kita terhadap orang yang menyakiti kita. Tidak ada jalan yang lebih baik dari hal ini.

Jangan menunggu setelah beberapa jam atau beberapa hari, karena kita tidak tahu informasi mengenai perasaan terluka tersebut diproses dalam pikiran seperrti apa. Bisa saja ia seperti bola salju, yang tadinya hanyalah sebuah batu kerikil yang meluncur dari atas gunung, lama kelamaan menjadi bola salju yang semakin membesar, bahkan rumah yang kokohpun akan hancur karenanya.

Persepsi negatif kita terhadap orang lain, jika kita tetap simpan didalam pikiran kita, maka ia bisa bertumbuh. Contohnya begini, saat anda hendak memarkir mobil di parkiran tempat anda bekerja, anda dihentikan oleh tukang parkir. Anda kaget biasanya anda tidak diperiksa karena tukang parkir telah lama mengenal anda. Anda diminta untuk menyerahkan STNK untuk dicatat, lalu harus membayar karcis. Karena anda merasa pegawai kantor tersebut, maka anda jelas menolak. Akhirnya terjadi perdebatan yang cukup sengit antara tukang parkir dan anda. Tukang parkir tidak mau kalah dan mengatakan hanya menjalankan tugas. Sambil marah-marah andapun terpaksa mencatatkan STNK dan membayar karcis tersebut.

Selepas dari parkiran dan hendak bekerja, maka aka nada banyak potensi dari sikap anda yang mengarah kepada sikap negatif. Karena suasana hati anda sudah tidak enak, maka hal yang sepele pun biasanya mudah direspon secara berlebihan. Dalam bekerjapun pikiran anda masih mengingat betapa kurang ajarnya si tukang parkir tersebut dalam memperlakukan anda. Anda pun mungkin akan membuat rencana untuk membalasnya dikemudian hari.

STOP SAMPAI DISINI.....!!!
Jika anda secara tidak sadar melanjutkan pikiran yang terus bergulir tanpa kontrol sama sekali, maka sebenarnya anda sedang menggelindingkan sebuah kerikil yang lama-lama menjadi bola salju yang bisa menghancurkan apapun. Sadari bahwa  persepsi sederhana yang tidak terawasi akan membuat pikiran kita membesar-besarkan masalah yang sebenarnya tidak penting. Oleh karenanya sadari. Padamkanlah emosi anda saat baru terbentuk. Gunakanlah pemikiran positif dan melihat persoalan dari dua arah. Bagaimana caranya? Dengan berempati.

Berpikirlah selalu, bahwa permasalahan terjadi selalu ada alasan. Mungkin saja tukang parkir itu belum begitu terlatih dalam melakukan tugasnya, atau mungkin ia baru saja mendapat masalah sehingga mudah marah. Carilah selalu kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi atas peristiwa yang anda alami. Cobalah sejenak merasakan apa yang orang tersebut rasa. Kira-kira apa yang ia pikirkan saat memunculkan perilaku tidak menyenangkan itu kepada anda.

Dengan berempati, maka cara berpikir anda menjadi lebih menyeluruh. Anda akan terhindar dari berpikir secara parsial dan menuduh orang dengan sudut pandang “saya”. Anda akan mengerti permasalahan dengan sudut pandang “dia”. Dengan begitu anda akan merasakan perbedaan perasaan yang anda alami.

Berapa banyak orang yang berdebat mengenai hal yang tidak terlalu penting yang akhirnya berujung pada retaknya hubungan? Padahal jika mereka memakai kacamata sudut pandang “saya” dan “dia”, maka perdebatan adalah upaya yang tidak diperlukan sama sekali. Kita tahu masing-masing orang memiliki pandangannya sendiri. Apa yang mereka lakukan adalah karena sumberdaya yang dimilikinya terbatas. Orang yang kurang pengalaman atau memiliki pendidikan yang rendah, tentu berbeda dalam menyikapi peristiwa. Tentu berbeda dengan orang yang lebih tinggi pendidikannya, toh meskipun banyak juga orang dengan pendidikan tinggi mudah bersikap buruk.


Jika anda tidak mampu untuk mencegah adanya api didalam diri anda, maka segera padamkan saat api itu masih kecil. Jangan menunggu meskipun sebentar sekalipun. Karena anda tidak akan pernah tahu dari sisi mana ia akan membakar anda.

Danang Baskoro, M.Psi., Psikolog
Psikolog Klinis

Sunday, September 25, 2016

DEPRESI DAN SEBUAH KEUNTUNGAN

“Halo Pak, bisa kerumah saya” begitulah kata-kata seorang laki-laki separuh baya yang menelpon saya saat hari libur kerja. Sayapun menanyakan perihal permasalahan yang dihadapi. Bapak tadi bercerita bahwa putrinya sudah tidak bersedia makan selama dua hari dan hanya mengurung diri didalam kamar saja.




Sudah satu tahun ini ia mengurung diri didalam kamar dan bahkan tidak pernah keluar rumah sekalipun. Sehari-hari hanya tiduran saja dan keluar kamar hanya untuk makan dan minum. Akan tetapi dua hari belakangan ini keadaannya semakin parah, ia tidak bersedia makan sama sekali hanya minum beberapa teguk saja.

Sayapun mendatangi rumahnya dan disambut oleh keluarganya.

“sudah dua hari ini Pak, anak saya tidak mau makan. Apa yang harus kami lakukan”. Kata sang Bapak.

Saya mencoba melihat keadaannya dikamar.

Terlihat seorang perempuan terbaring dengan tubuh dimiringkan, kepalanya ditutup bantal dan hanya meringkuk tidak bergerak sama sekali. Bapaknya mengajak berbicara, tapi tidak ada jawaban sama sekali yang keluar dari mulutnya. Saya berbicara dan mengajaknya mengobrol. Nihil. Tidak ada jawaban sama sekali.

Ia masih bernafas dan tentu saja ia masih tersadar. Tapi tidak mau bicara sama sekali.
Saya keluar kamarnya dan mengatakan kepada orangtuanya agar dibawa segera ke rumah sakit untuk mendapat perawatan medis, mengingat sudah dua hari tidak makan dan minum, saya khawatir akan terjadi hal yang buruk dan kemungkinan dehidrasi cukup kuat.

Keluarga menceritakan bahwasanya anaknya dulu tidak seperti sekarang yang pemurung. Ia dulu sangat ceria dan pekerja keras. Setiap hari ia habiskan untuk bekerja dan baru pulang larut malam. Hingga suatu ketika hubungan dnegan kekasihnya harus berakhir. Entah bagaimana ceritanya  yang jelas semenjak saat itu ia menjadi pemurung. Lama kelamaan ia semakin tidak bersedia keluar rumah, bahkan tidak keluar kamar.

Jika saja waktu itu ia segera mendapat pertolongan, mungkin tidak akan separah sekarang. Tetapi karena sudah satu tahun berlalu, maka gejala depresi telah menguasainya. Sudah sangat berat baginya untuk merubah perasaan “tidak berdaya” yang dirasa selama ini.

Keuntungan dari ketidakberdayaan
Pernahkah dimasa kecil anda, mungkin sewaktu anda masih sekolah SD. Saat anda sakit panas dan boleh untuk tidak masuk sekolah, sepanjang hari anda merasa senang sekali karena diijinkan tetap bermain di rumah secara “legal”?!

Banyak orang yang tidak menyadarinya, bahwasanya apa-apa yang mereka anggap sebagai sesuatu yang mengganggu, adalah juga mereka harapkan kedatangannya. Terkait topic ini, maka contoh diatas adalah kasus yang tepat untuk menjelaskan “keuntungan dari ketidakberdayaan”.

Dengan merasa tidak berdaya secara sengaja, mungkin ia akan merasa puas untuk bisa membuat keluarganya merasa cemas dan kalang kabut. Mungkin dalam pikirannya ia dapat menghukum mantan pacarnya jika ia benar-benar mati atau setidaknya terlihat menderita.

Namun disisi lain ia juga merasa benar-benar menderita, di level kesadaran yang lebih tinggi ia mungkin kebingungan, apa yang sebenarnya terjadi? Dan kenapa perasaannya selalu sedih dan murung?

Kebiasaan mengurung diri dan mengutuk diri seperti ini pada awalnya memang tidak membawa dampak yang besar. Akan tetapi lama-kelamaan jika hal ini dilakukan hingga berbulan-bulan, maka akan ada kinerja otak yang terganggu. Kesedihan yang dihasilkan mekanisme tidak normal otak akan bekerja sepanjang waktu dan menguasai keseluruhan harinya. Dan ini bukan hanya masalah “saya mngurung diri agar semua orang khawatir..”, tapi mekanisme mengurung diri ini benar-benar adanya, tanpa dibuat-buat.

Jika pun ia keluar rumah untuk mencoba berinteraksi dengan orang lain, tatapannya akan sulit untuk difokuskan. Pikirannya kosong serta sulit untuk berkonsentrasi.

Dalam hal ini istilah yang tepat adalah “disosiasi”, yaitu perasaan keterpisahan antara emosi dan pikiran. Ia berjalan, melihat dan mendengar, akan tetapi seolah-olah kesadarannya tidak sepenuhnya berada didalam tubuhnya. Ia merasa kesadarannya “kosong”.

Tidak heran, jika orang yang mengalami gejala disosiasi ini akan mudah untuk “kesurupan”, celakanya orang-orang benar mengira bahwa ada roh halus yang menempel pada tubuhnya. Ya sudah semakin kacaulah.

Bagaimana mengatasinya?
Seseorang yang kehilangan tujuan hidupnya akan benar-benar kehilangan arah sama sekali. Manusia dapat bertahan karena mereka memiliki tujuan. Tujuan untuk apa mereka menjalani hidupnya, untuk apa mereka bekerja, untuk apa mereka mempersiapkan segala sesuatu saat ini.

Mereka yang tidak mampu mencari jawaban atas pertanyaan itu, mereka tidak punya alasan untuk mempertahankan eksistensinya.

Untuk mengatasi kesedihan, tujuan harus dirumuskan secara sengaja. Dalam kasus diatas si perempuan yang ditinggal oleh kekasihnya mungkin menganggap pernikahan mereka adalah alasan satu-satunya ia bekerja serta berbahagia. Sehingga saat ia berpisah dengan kekasihnya, alasannya untuk tetap melanjutkan kehidupan seperti biasanyapun mendadak hilang.

Jika anda mengalami kesedihan yang serupa, maka cepatlah untuk merumuskan tujuan baru yang lebih bermakna. Tujuan itu tidak harus besar dan megah. Cukuplah anda bisa mencapainya dan dapat anda laksanakan secara mudah setiap hari.

Bisa saja anda menentukan tujuan untuk mendapat penghasilan tambahan dari membuat kue atau menjual baju secara online. Atau tujuan pencapaian berat badan yang ideal dengan melakukan olahraga secara rutin di pusat kebugaran.

Jika anda fokus kepada hal-hal kecil yang bisa anda capai dalam jangka pendek, maka tentu anda akan belajar kembali bahwa inti dari kehidupan adalah mencapai tujuan-tujuan kecil secara berkelanjutan hingga tiba pada suatu pencapaian tertentu.

Aktifitas fisik membuat kinerja otak teraktivasi secara optimal. Jika mengurung diri membuat fisik yang selama ini diam, maka dengan melakukan aktifitas fisik kimia di otak akan diproduksi secara normal kembali.

Jika anda sedang depresi dan anda ingin sembuh, lakukan kegiatan meskipun itu hal remeh. Mencuci piring secara rutin, menyapu lantai secara rutin, membersihkan kaca, keluar membeli sesuatu di toko, lalu tingkatkanlah kuantitasnya disetiap waktu. Lama kelamaan fungsi otak anda akan teraktifasi kembali untuk bekerja secara normal.

Dan yang terakhir, karena semua bersumber dari pola pikir, maka anda harus mengintervensi pola pikir anda secara sengaja. Datanglah ke professional, psikoterapis atau psikolog yang membantu anda mengenali kesalahan dalam berpikir dan melatih cara berpikir anda lebih baik lagi.

Mungkin anda akan melakukan latihan-latihan cara berpikir yang benar, dan itu seringkali terasa tidak enak. Namun begitu setelah beberapa bulan anda akan merasa perubahan yang ajaib.

Danang Baskoro, M.Psi., Psikolog
Psikolog Klinis
Founder Brilian Psikologi
082143779380

Saturday, July 23, 2016

DIMANAKAH KEBAHAGIAAN ITU?

Alkisah disuatu laut yang luas hiduplah seekor ikan kerapu muda. Si kerapu ini agak sombong dan paling tidak mau mendengarkan nasehat kerapu yang dituakan. Namun suatu hari ia mendengar dari ikan lain bahwa sebenarnya bangsa ikan itu hidupnya di dalam air.

Kerapu muda diliputi pertanyaan. "Air? apa itu? dimana dia berada? kenapa kok saya tidak bisa menemukannya?"

Karena pertanyaan itu sangat mengganggunya, maka si kerapu muda itu terpaksa bertanya kepada si kerapu bijak "mana buktinya kalau air itu ada? saya tidak bisa melihatnya?"

Si kerapu yang bijak hanya tersenyum dan mengatakan bahwa kerapu muda itu tidak bisa melihat air, karena air sangat dekat dengan dirinya, bahkan menyatu dengan kehidupannya.

Kerapu muda tidak puas dengan jawaban si kerapu bijak, dan malah mencacinya karena dinilai jawabannya mengada-ada bahkan tidak logis. Ia pun bertekad akan mencari tahu mengenai hal ini sendiri di laut wilayah lain.

Dalam perjalanannya, karena merasa letih dan lapar tidak menemukan yang dicari, ia beristirahat sejenak.....Tiba-tiba ada benda yang menarik perhatiannya....Ia melihat cacing yang bergerak naik-turun tidak jauh dari tempatnya beristirahat....Secepat kilat ia menyambar cacing itu dan menelannya. Namun ia kaget karena tiba-tiba ada kekuatan yang menariknya keatas dengan sangat cepat.

Si kerapu muda pun berpindah ke perahu nelayan dan ditempatkan disebuah jaring. Disana ia menangis..ia merasa kesakitan dan kehabisan nafas.

Dari jaring diatas perahu ia melihat lautan yang sangat luas sekali. Ia baru menyadari selama ini ia hidup disana. Di dalam air. Tapi semua itu sudah terlambat.
Baginya..hanya penyesalan yang tersisa.

Sadar atau tidak, bahwa sebenarnya semua yang ada bersama kita merupakan kebahagiaan. Kita menjadi tidak bahagia ketika kita mulai mencari kebahagiaan tersebut. Saat kita mempertanyakan, "bagaimana caranya aku agar bahagia?".

Manusia diciptakan untuk bahagia. Tapi banyak dari mereka yang salah mengira kesenangan adalah kebahagiaan. Mereka mulai mengejar rasa nikmat tanpa batas, mencari harta dengan menghalalkan segala cara, berharap kepada pujian palsu dan penerimaan kelompok yang semu.
Tapi sampai kapan pun kebahagiaan hanya menjadi impian bagi mereka yang mencari, karena kebahagiaan itu dekat sekali dengan kita.

Masihkah Anda bertanya, dimana kebahagiaan itu?

Tuesday, December 15, 2015

Hypnosis dan mitos-mitosnya



Saya pernah menjumpai beberapa orang yang menilai bahwa hipnoterapi itu berbahaya. Beberapa lainnya mengatakan bahwa jika kita dihipnosis, maka kita dapat mengatakan apa saja yang ditanyakan oleh hipnoterapis.  Dia berpendapat seperti itu karena sering melihat tayangan hypnosis panggung, yang semata-mata hanya untuk hiburan yang kesannya merendahkan klien sebagai individu.

Sebenarnya apa yang dilakukan oleh orang-orang yang dihipnosis di televisi itu tidak begitu-begitu juga. Kenyataannya, orang yang dihipnosis masih memiliki kendali atas apa yang dia katakan, alam bawah sadarnya masih terjaga dan tidak akan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan keyakinan intinya (core belief).

Lalu kalau begitu apakah yang dikatakan oleh peserta hipnotis panggung itu karena kemauannya sendiri?
Jawabannya adalah “iya”.

Berikut ini adalah mitos-mitos yang terjadi seputar hypnosis, harapannya setelah membaca ini kita akan lebih memahami tentang apa yang benar dan yang salah seputar hypnosis, sehingga selanjutnya kita dapat melakukan hypnosis yang tepat.

X : Apakah hypnosis itu ilmu gaib?
Y : Bukan, hypnosis adalah teknik yang sangat ilmiah dan sering terjadi dikehidupan kita sehari-hari, seperti melamun, menyetir mobil, bahkan olahraga.
X : Bagaimana dengan kejahatan dengan hypnosis yang sering terjadi?
Y : Mereka (pelaku) menggunakan keterampilan komunikasi yang melumpuhkan area kritis (SAR) dengan bermacam cara seperti mengejutkan, berpura-pura kesusahan dan lainnya. Intinya saat korban lengah pelaku memanfaatkan kelemahan korbannya. Misalkan korban yang mudah kasihan (biasanya ibu-ibu) mudah untuk di tipu dengan teknik pura-pura pelaku kesusahan, atau korban yang serakah akan mudah ditipu dengan modus mendapat hadiah besar.
X : Lalu, bagaimana orang yang tiba-tiba pingsan saat ditepuk, atau tiba-tiba linglung tanpa dengan keterampilan komunikasi yang disebutkan tadi?
Y : Yang jelas itu bukan hypnosis, mungkin juga menggunakan kekuatan lain.
X : Apakah jika dihipnosis maka orang akan menemukan rahasia yang kita simpan?
Y : oh, itu tergantung klien. Apakah dia bersedia untuk mengatakannya atau tidak. Semua masih dalam kendali dirinya kok. Lebih tepatnya kendali alam bawah sadarnya. Jadi jika perkataan/perbuatan tersebut bertentangan dengan norma dalam dirinya, maka orang yang dihipnosis bisa saja menolak berbicara.
X : Apakah hypnosis mempunyai efek samping? Maksudnya apakah dia berbahaya dan bisa menimbulkan trauma?
Y : Apapun alatnya akan sangat tergantung oleh pemakainya. Jika digunakan dengan benar untuk kebaikan, maka dapat menjadi alat penyembuh. Oleh karena itu hipnoterapi lebih baik dilakukan oleh orang yang telah belajar ilmunya dari guru atau literatur yang memadai agar terbebas dari resiko.
X : Apakah dampak dari hypnotherapy itu permanen atau hanya sementara?
Y : Melalui cara yang tepat dan mempertimbangkan hukum pikiran bekerja, maka perubahan dapat terjadi secara permanen. Jika dampaknya hanya sementara, maka biasanya perubahan yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan pribadinya, ataupun ia masih merindukan keuntungan lain dari perilaku yang bermasalah tersebut. Oleh karena itu dibutuhkan pemahaman yang menyeluruh dalam mengerti psikologis seseorang.

Salam,
Danang Baskoro, M.Psi., Psikolog

Sunday, December 13, 2015

Konsep Tentang Kesadaran Manusia

Jika kita berbicara mengenai konsep, maka boleh dikatakan hal ini bukan keadaan yang sebenarnya atau persis ya. Konsep ini dipakai untuk memudahkan kita dalam memahami prinsip kerja pikiran manusia dan membuatnya lebih sederhana, sehingga kita mudah bekerja dengannya.

Dalam hypnosis, pikiran manusia dibagi menjadi dua, yaitu pikiran sadar dan pikiran bawah sadar.
Pikiran sadar (conscious) adalah pikiran yang bertugas untuk menilai, berpikir, mengambil keputusan dan melakukan tugas lain yang bisa bekerja saat seseorang tersebut memusatkan perhatian dalam berpikir. Jadi pikiran sadar lebih banyak berhubungan dengan cara berpikir logis.
Cara berpikir ini lebih di dominasi oleh otak kiri.

Sedangkan pikiran bawah sadar adalah pikiran yang berisi mengenai memori jangka panjang, emosi, kebiasaan, intuisi, kreatifitas, keyakinan dan nilai serta sumber potensi manusia yang tidak semua terakses.
Pikiran bawah sadar (Sub-Concious) memiliki peran 88% dalam mempengaruhi kehidupan seseorang. Dibandingkan dengan pikiran sadar  yang hanya memiliki peran 12%, maka pikiran bawah sadar lebih banyak menentukani jalan hidup seseorang.

Pikiran bawah sadar ini lebih mirip sebagai bank data di dalam manusia. Nah, bank data ini tadinya kosong. Lalu diisi dengan data-data seiring perjalanan hidup seseorang dan terjadilah pemrograman. Pengisian data ini bisa terjadi melalui 2 cara, yaitu pengalaman yang kita temui sendiri dan pengalaman induktif (datang dari orang lain).

Kenyataannya, sebagai manusia kita banyak mendapat data pemrograman ini dari orang lain. Kita bisa bicara misalnya, adalah proses belajar dari orang lain, begitu juga dengan belajar disekolah, pergaulan sehari-hari, televisi dan banyak lagi informasi yang masuk dan akhirnya terinstal. Celakanya jika informasi tersebut adalah informasi yang salah, sehingga dapat menghambat seseorang dan tidak memberdayakan.

Informasi yang terinstal dan tidak memberdayakan ini bisa jadi karena dua proses. Bisa karena informasinya memang benar-benar menghambat, misalkan keyakinan terhadap uang yang ditanamkan oleh orangtua, bahwa uang itu sumber dari penderitaan. Orang yang memiliki keyakinan ini akan cenderung menghindari mendapatkan uang yang banyak, meskipun dalam pikiran sadarnya ia membutuhkan dan menginginkan uang.
Proses yang kedua adalah karena proses kesalahan dalam penginstalan informasi. Hal ini dapat terjadi karena kita salah memaknai terhadap suatu informasi/kejadian, atau bisa juga karena kurangnya kapasitas mental kita saat pemaknaan itu terjadi. Nah biasanya kesalahan ini terjadi pada usia anak-anak (<8 tahun).

Pada usia anak-anak kemampuan berpikir kita belumlah secanggih sekarang, sehingga saat mendapatkan informasi dari luar khususnya yang menyakitkan, kita belum dapat memahaminya dengan pemahaman yang benar. Misalnya, saat seorang anak dicakar kucing saat masih berusia 5 tahun, pada waktu itu akhirnya ia mengintepretasikan bahwa kucing adalah binatang yang menakutkan. Data ini masuk kedalam memori jangka panjangnya. Masuk ke pikiran bawah sadarnya. Dan ketika ia sudah dewasa ia tahu bahwa kucing tidaklah berbahaya, akan tetapi pikiran bawah sadarnya mengatakan bahwa kucing itu berbahaya. Sehingga menimbulkan respon ketakutan yang tidak wajar.

Hal yang sama terjadi pada orang yang mengalami kecemasan saat berhubungan dengan orang lain, dan memiliki perilaku atau kebiasaan yang kurang adaptif lainnya.

Oleh karena itu jika pikiran sadar dan bawah sadar bertentangan, dapat dipastikan pikiran bawah sadarlah yang akan menang.

Kalau begitu apakah pikiran sadar ini kurang penting?

Yang dimaksud dengan 12% peran pikiran sadar ini tidak mengurangi tingkat kegunaannya dalam hidup seseorang lho ya. Jika pikiran sadar ini rusak, maka pikiran bawah sadar tidak akan banyak gunanya. Hal ini terjadi karena pikiran sadarlah yang menentukan penggunaan bawah sadar dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya begini, ada orang yang sangat pintar. Ia sudah berpengalaman bekerja berpuluh tahun sehingga diotaknya tersimpan banyak informasi yang berguna untuk menunjang keberhasilannya. Akan tetapi suatu hari ia mengalami kecelakaan yang membuat gegar otak. Semenjak saat itu ia menjadi sulit berkonsentrasi dan kurang bisa mengendalikan diri saat marah ataupun lapar. Ia marah sekenanya dan makan sebanyak mungkin saat lapar.

Nah, kira-kira apakah orang ini akan bisa menggunakan potensi bawah sadarnya dengan baik ?
Tentu saja tidak kan?! Jadi pikiran sadar tidak kalah penting dengan pikiran bawah sadar, meskipun nanti kita bisa membahas mengenai tingkat penggunaannya dalam konteks yang berbeda.

Salam
Danang Baskoro, M.Psi., Psikolog